Dalam setengah tahun terakhir banyak terjadi kasus pelecehan simbol-simbol
islam. Ada kasus perederan sandal merek Nike dan Glacio dengan motif hiasan lafal Allah, bahkan kaligrafi
surat Al-Ikhlas. Sampul Al-Qur’an dijadikan terompet. Lembaran Al-Qur’an
dijadikan kertas petasan . celana
bermotifkan kaligrafi surat al-ikhlas. Loyang kue bertuliskan
ayat al-qur’an. Adzan mengiringi
nyanyian natal dalam perayaan
natal yang dihadiri oleh presiden jokowi. Karpet sajadah dijadikan alas
penari yang menarikan tari bali dalam sebuah acara Kemenag DKI. Yang paling
akhir adalah kasus yang diungkap oleh seorang netien di facebook nya pada kamis
(8/1/2016) bahwa ada sepatu merek La koka bertuliskan kaligrafi arab berupa penggaln
QS Yusuf ayat 64: “fallah khayrun hafizhan”.
Sepatu itu diduga dibeli disurabaya (hidayatullah.com
9/1/2016). (Buletin dakwah Al-Islam edisi 789:
4 rabiul akhir 1437 H/15 Januari 2016 M)
Mebudayakan tadisi Ilmu dan Tarbiyah
Mengapa kita harus membudayakan tradisi
ilmu dan atarbiyah karena jelas Allah telah menyinggung orang yang berilmu
dengan tidak berilmu berbeda, dalam QS Az-zumar (39): 9 Allah berfrman yang
artinya “Adakah sama orangorang yang
mengetahui dengn orang –orng yan tidk
mengetahui?” sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Saya tidak mengatakan oknum-oknum diatas tidak berilmu, mungkin berilmu tapi ilmunya
belum sampai disitu, karena secara bahasa ilmu itu mengetahui sesuatuesuai dengan hakikatnya. jadi untuk membangun negara ini bukan hanya butuh semangat jihad, tetapi semangat menuntu ilmu dan tarbiyah, harus lebih dari semangat jihad, atau semangat apapun, karena imam bukhori memberikan satu bab dalam kitabnya, berilmu sebelum berkata dan beramal, jadi untuk melakukan sesutu ilmui dulu apa yang akan kita lakukan. i
insyaAllah.....
(y)
BalasHapus