Rabu, 20 Januari 2016

Inspirasi



Dalam setengah  tahun terakhir banyak terjadi kasus pelecehan simbol-simbol islam. Ada kasus perederan sandal merek Nike   dan Glacio  dengan motif hiasan lafal Allah, bahkan kaligrafi surat Al-Ikhlas. Sampul Al-Qur’an dijadikan terompet. Lembaran Al-Qur’an dijadikan  kertas petasan . celana bermotifkan kaligrafi surat al-ikhlas. Loyang kue  bertuliskan   ayat al-qur’an. Adzan mengiringi      nyanyian natal dalam perayaan  natal yang dihadiri oleh presiden jokowi. Karpet sajadah dijadikan alas penari yang menarikan tari bali dalam sebuah acara Kemenag DKI. Yang paling akhir adalah kasus yang diungkap oleh seorang netien di facebook nya pada kamis (8/1/2016) bahwa ada sepatu   merek  La koka bertuliskan kaligrafi arab berupa penggaln QS Yusuf   ayat 64: “fallah khayrun hafizhan”. Sepatu itu diduga  dibeli disurabaya (hidayatullah.com 9/1/2016). (Buletin dakwah Al-Islam edisi 789:  4 rabiul akhir 1437 H/15 Januari 2016 M)

Mebudayakan tadisi Ilmu dan Tarbiyah
Mengapa kita harus membudayakan tradisi ilmu dan atarbiyah karena jelas Allah telah menyinggung orang yang berilmu dengan tidak berilmu berbeda, dalam QS Az-zumar (39): 9 Allah berfrman yang artinya  “Adakah sama orangorang yang mengetahui  dengn orang –orng yan tidk mengetahui?” sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Saya tidak mengatakan oknum-oknum diatas tidak berilmu, mungkin berilmu tapi ilmunya belum sampai disitu, karena secara bahasa ilmu itu mengetahui sesuatuesuai dengan hakikatnya. jadi untuk membangun negara ini bukan hanya butuh semangat jihad, tetapi semangat menuntu ilmu dan tarbiyah, harus lebih dari semangat jihad, atau semangat apapun, karena imam bukhori memberikan satu bab dalam kitabnya, berilmu sebelum berkata dan beramal, jadi untuk melakukan sesutu ilmui dulu apa yang akan kita lakukan. i
insyaAllah.....

1 komentar: